FBS

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Dinasti Kerabat Politik Lokal

Tuesday, June 12, 2007

Pilkada
Dinasti Kerabat Politik Lokal

Kampanye Pilkada (GATRA/Dwitri Waluyo)AWAL Februari lalu, Museum Rekor Indonesia memberi penghargaan kepada pasangan suami-istri pertama yang kompak terpilih jadi bupati. Sang suami, I Gede Winasa, menjadi Bupati Jembrana, Bali. Istrinya, Ratna Ani Lestari, jadi Bupati Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka terpilih lewat pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung.

Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Juni 2005, melahirkan pasangan mertua-menantu pertama sebagai bupati (Lalu Wiratmaja) dan wakil bupati (Lalu Suprayatno). Sementara Gubernur Kalimantan Tengah, Teras Narang, dilantik dalam rapat DPRD yang dipimpin kakaknya, Atu Narang, sang ketua dewan. Hubungan kekerabatan memang banyak mewarnai komposisi pimpinan daerah.

Di Jawa Tengah, salah satu keluarga yang legendaris sebagai pemasok pejabat publik setempat adalah pasangan R. Sugito Wiryo Hamidjoyo dan R. Rustiawati. Lima dari 11 putra Sugito meramaikan bursa jabatan publik di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Putra tertua, Pupung Suharis, jadi anggota DPR. Adiknya, Don Murdono, Bupati Sumedang. Adiknya lagi, Hendy Boedoro, Bupati Kendal. Disusul Yuwanto, anggota DPRD Kota Semarang. Si bungsu, Murdoko, juga tak mau kalah, melesat jadi Ketua DPRD Jawa Tengah. Semua politisi yang berkarier lewat PDIP ini baru mendapat tempat setelah reformasi.

Sang ayah, Sugito, dulu adalah Sekretaris PNI Kendal. ''Tapi sebetulnya kami bebas memilih jalan hidup, termasuk pilihan partai. Kebetulan kami semua berpikir PDIP yang cocok,'' kata Hendy Boedoro. ''Dari kecil ada kebiasaan debat yang dibangun Ayah di keluarga. Ini membuat jiwa kami terasah dan tertarik menekuni politik.''

Sulawesi Selatan memiliki nama kondang Yasin Limpo. Pensiunan Angkatan Darat ini pernah jadi Bupati Luwuk, Majene, dan Gowa. Jusuf Kalla pernah menobatkan Yasin sebagai guru politiknya. Sekarang Yasin telah pensiun. Tapi istri dan anak-anaknya tetap berkiprah di ranah politik.

Istri Yasin, Nurhayati, kini jadi anggota DPR-RI. Putra pertamanya, Tenri Olle, menjadi anggota DPRD Gowa. Tenri bertugas mengawasi adiknya, Ichsan Yasin (putra kelima), selaku Bupati Gowa. Putra kedua, Syahrul Yasin, kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Selatan. Ada lagi Haris Yasin, anak keenam, yang jadi anggota DPRD Kota Makassar.

Keluarga Yasin Limpo sudah lama malang melintang di panggung politik Sulawesi Selatan. Maklum, Yasin tercatat sebagai pendiri Golkar Sulawesi Selatan. Menurut Syahrul Yasin, sebenarnya sang ayah tak pernah memaksa anak-anaknya agar jadi pejabat. Yasin Limpo hanya sering menekankan pentingnya memberi teladan dan betapa mulianya jadi pemimpin.

Tentang berbagai pos publik yang diduduki kakak-adiknya, Syahrul menyebut semua itu sebagai hasil kerja keras masing-masing. ''Kami punya basis sendiri-sendiri, dan kami berkompetisi secara sehat,'' kata Syahrul. Capaian itu bukan hasil KKN? ''Rakyat sudah tak bisa diarah-arahkan. Mereka murni pilihan rakyat,'' tutur Syahrul, yang akhir-akhir ini dikabarkan bakal maju ke bursa gubernur pada pilkada 2007.

Sepengamatan Gatra, keluarga Yasin Limpo memang diliputi spirit kompetisi memburu pos strategis. Ada kesan terkucil dalam keluarga bila kalah bersaing dengan pesaing masing-masing. Kerap muncul ungkapan, sang ibu bisa berkompetisi jadi anggota DPR, masak anak-anak kalah.

Mencuatnya politik kekerabatan ini, menurut analis politik Jawa Tengah, Andreas Pandiangan, akibat masih tradisionalnya sistem politik Indonesia. Rekrutmen kader di partai politik untuk kandidat pejabat eksekutif dan legislatif masih memperhitungkan ikatan keluarga.

Ini berdampak pada perilaku politik masyarakat. ''Orang akan memersepsikan bahwa si B yang anaknya si A memiliki sifat yang tak jauh beda dengan si A,'' kata Andreas. Pengaitan macam itu pula yang dinilai memenangkan Ratna sebagai Bupati Banyuwangi.

Sukses suaminya di Jembrana diopinikan sedemikian rupa akan mampu diwujudkan di Banyuwangi. ''Sosok Winasa yang bersahaja dijadikan bahan mempromosikan sosok Ratna,'' ujar Redi Setiadi, pemerhati masalah dinamika Banyuwangi dari Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi.

Namun Ratna menyangkal amatan itu. ''Saya hanya menjual program serta visi dan misi, bukan 'menjual' pengaruh suami,'' katanya lantang. Kebetulan, pekan lalu, DPRD Banyuwangi mengajukan hak interpelasi kepada Ratna karena programnya sama dengan suaminya. ''Apa salah jika saya meniru hal yang baik,'' ujarnya ketika ditemui Arif Sujatmiko dari Gatra di Dusun Bayu Lor, Songgon, 45 kilometer dari kota Banyuwangi.

Sejumlah analis politik lokal khawatir, jaringan kekerabatan antar-pejabat publik ini memuluskan kolusi dan nepotisme. Bagaimana kalau pimpinan legislatif dan eksekutif bersaudara, seperti di Gowa dan Kalimantan Tengah? Apakah mekanisme kontrol bisa berlangsung normal? Kultur birokrasi yang terkenal korup membuat banyak pihak cemas.

Pengajar di Universitas Mataram, Satriawan Sahak, menyerukan pemerintahan daerah harus tetap dikritik. ''Agar jangan sampai lepas kontrol,'' katanya kepada Hernawardi dari Gatra. Monopoli pemasok bibit pemimpin oleh kerabat terbatas juga perlu dikurangi dengan memperluas akses kompetisi pada siapa saja.

Asrori S. Karni, Imung Yuniardi (Semarang), dan Anthony (Makassar)
[Nasional, Gatra Nomor 18 Beredar Senin, 13 Maret 2006]

0 Komentar: